Senin, 24 Oktober 2011

LILIN KECIL

          Wajah pualam itu menari-nari diatas permukaan air. Mata beningnya sejernih air yang tengah ia pandang. Bahkan ia menambah jumlah volume air sungai dengan tetesan mata beningnya. Cahaya mata itu tak seterang biasanya. Pancaran keceriaan itu telah tertutup kabut hitam nan tebal. Gadis kecil itu di rundung petaka.
          Tepat satu minggu yang lalu, langit seolah di pikulnya. Gelegar petir terus menyambar dadanya. Sesak. Hati rapuh itu di rajam duka.
          Bagaimana tidak jika pahlawan dalam hidupnya pergi dan takkan penah kembali. Lilin kecil yang ia nyalakan belum menjadi sinar terang bagi kehidupannya. Namun penyala api itu telah pergi. Padam sudah lilin kecil itu. Kini ruang hatinya gelap. Tak ada lagi penerang jiwa.
          Langkahnya gontai tertatih-tatih. Mencari tempat untuk bersandar dalam hidup namun ia tak menemukan apa-apa. Gubuk reok di tepi sawah itu tampak hening meski banyak tetangga berdatangan. Seorang laki-laki setengah baya duduk di samping ibunya yang tersedak tagis. Sambil menepuk bahu ibunya, lelaki setengah baya itu memberikan petuah. Namun petuah tinggallah petuah. Pikir Nining. Petuah tak akan bisa mengembalikan keadaan. Siapa yang akan menyalakan lilin kecil itu? Pedulikah mereka?
          Gemericik air mulai turun dari persembunyiannya. Menyapu udara panas musim pancaroba yang tengah beralih menjai musim hujan. Namun selebat apapun air hujan turun, tak akan mampu menyibak panas di hati Nining.
          Rintik hujan mulai mereda. Keranda itu di bopong banyak orang. Ia tatap lekat bapaknya dengan bibir basah menguntai doa. Masih Nining ingat pesan pahlawan dalam hidupnya itu. Bahwa tiga amal yang pahalanya akan terus mengalir salah satunya adalah anak sholihah. Cahaya yang menyalakan lilin untuknya itu bukanlah oang pandai. Begiulah kata bapaknya. Namun masih Nining ingat petuah bapaknya bahwa sebanyak apapun ilmu seseorang, jika tidak di manfaatkan bagaikan pohon yang tak berbuah. Bapak yang mengaku orang kampung dan tak pandai itu bercerita kepada anak semata wayangnya, bahwa ia akan berusaha mengamalkan sedikit ilmunya dari seorang ustadz ang mengajarinya di saat ia tidak mendapatkan pendidikan.
          Masih terngiang jelas dalam benank Nining, sosok ramah penuh wibawa itu. Seorang bapak yang tak penah makan bangku sekolah namun bisa menjadikannya sebua inspirasi.
***
          Tangis tinggallah tangis. Sebanyak apapun lelehan air mata ia keluarkan, bapaknya tak akan kembali.
          Batu-batu kecil itu ia lempar ke sungai. Bayangan wajahnya memudar. Begitulah gambaran jiwanya saat ini. Pekerjaannya hanya duduk melamun denan akal mengembara entah kemana. Bagaimana tidak, bukan hanya bapaknya yang terkubur. Impiannya juga ikut terkubur di dalam jurang keputus asaan.
          Tiga hari yang lalu, ia memandang bibir lebam gemetar dengan wajah layu di antara celah bambu-bambu reok rumahnya tengah merogoh saku baju yang tegantung di kamar sau persatu. Hasilnya nihil. Tak ada sekeping uangpun di temukan emaknya. Mata innocent itu mulai berlinang derita melihat sesak napas seorang ibu dengan langkah tertatih dalam hidup.
***
          Terhempas sudah harapan yang selama ini ia susun sedemikian rupa. Tak berbekas. Bertahun-tahun Nining menanti impian itu menjadi kenyataan. Namun kini tinggal angan belaka. Suatu impian yang selalu di dendangkan di telinganya. Di mimpikan dalam tidurnya dan selalu di perjuangkan orang tuanya, kini hanya menciptakan kekecewaan.
          “Bapak tidak bisa memberimu apa-apa Ning. Tidak seperti kebanyakan bapak-bapak yang lain yang bisa memberikan harta benda kepada anaknya. Tapi Bapak ingin meminta sesuatu kepada kamu Nak,”
          Nining terhentak kaget. Gerangan apa yang ingin bapaknya minta? “Alangkah bahagianya seorang anak jika dapa memenuhi keinginan orang tuanya. Tapi Nining lebih tidak punya lagi dari pada Bapak dan Emak,”
          Bapak dan Emaknya saling pandang tersenyum.
          “Bapak dan Emak tidak meminta harta kepadamu. Kami ingin meminta sesuatu yang lebih dari sekedar materi,” jawab emaknya.
          Nining ternganga. Kepalanya mendongak cepat. Lebih dari sekedar harta?
          “Ilmu. Bapak dan Emak ingin setelah lulus Ma nanti kamu kuliah Ning. Bapak tahu lingkungan masyarakat di desa kita masih tabu  mendengar kata-kata kuliah. Selesai SMP saja sudah bagus. Kebanyakan lulus SD sudah di nikahkan. Ilmu agama sangat awam. Bapak dan Emak ingin suatu saat nanti kamu bisa mengajari Mak dan bapakmu yang mulai pikun ini.”
          Suasana hening sejenak. Kuliah? Angan-angan itu tak pernah terngiang di benak Nining. Bagaimana tidak? Teman-temannya SD sudah punya anak. Sedang dia melanjutkan sekolah ke tingkat MA aja menjadi hal yang langka di kampungnya. Hanya ada dua anak yang melanjutkan ke tingkat SMA. Itupun keluarga yang mampu. Belum lagi jarak tempuh yang jauh yang harus di tempuh karena letak desanya yang terpencil.
          “Apakah mungkin Mak dan Bapak membiarkanmu menjadi buruh tani juga? Sedang dalam hidup di dunia kami hina. Apakah kami juga akan hina di akhirat nanti karena kami tidak mengerti agama?”
          Nining terhenyak. Tak pernah menyangka bapaknya bisa berkata seperti itu.
          “Angkat derajat orang tua ini di akhirat.”
          Beban berat itu kini di pikulnya. Derajat di akhirat? Beban itu tak sebanding dengan rasa lelah saat membantu orang tuanya menjadi buruh tani. Untuk sekolahpun Nining mendapat bea siswa. Bagaimana mungkin seorang anak di desa terpencil di tengah gunung itu berani untuk kuliah? Bahkan untuk memimpikannya saja Nining tak berani. Uang dari mana? Pikirannya di penuhi dengan tanda tanya yang semakin bemunculan.
          “Bapak dan Mak dari dulu selalu berusaha menyisihkan uang untuk kuliahmu Ning. Kamu tidak pelu kawatir. Allah pati memberi jalan. Tapi kamu tidak mugkin bisa menikah secepat teman-temanmu, apakah kamu rela Nak?”
          “Ya Allah Mak!!! Nining rela. Tapi ining sadar diri,” pandangannya tertunduk.
          “Hanya itu yang bisa Bapak dan Mak berikan. Tapi kau juga harus memberikan apa yang kamu dapat kepada Bapak dan Mak.”
          Sejak saat itu, impiannya masuk jenjang kuliah menjadi terang. Jalan itu seolah berada di depan mata. Begitu jelas. Mimpi itu menjadi bunga tidur dan semangat dalam hidup. Ia merasa hidupnya lebih berharga. Untuk mengangkat derajat orang tuanya.
          Namun kini, pudar sudah impiannya. Ia harus membanu sau-satunya orang yang di kasihinya untuk mencari nafkah. Bisa melanjutkan lulus MA saja Nining tidak berharap.  
***
          Sinar matahari mulai menyingsing. Gonggongan anjing terdengar di rumah tetangga. Kampung yang jauh dari ilmu agama. Banyak ustadz yang tidak bertahan tinggal lama di kampung kecil di antara gunung itu. Nining sudah bersiap berangkat ke sawah untuk menemani ibunya bekerja.
          Tatapan lembut yang menahan lelehan iar mata itu memandang lekat gadis kecilnya. Satu hati itu berpelukan dalam isak tangis.
          “Seharusnya kamu sekolah Nak!!”
          Tangis Nining semakin menjadi. Matanya merah lebab.
          “Berangkat yuk Mak! Nanti kita terlambat,” dengan topi sawah dan baju khusus mereka, anak ibu itu berangkat ke sawah.
***
          Gemuruh motor terdengar keras di antara kesunyian sawah. Semua sorot mata menatap seseorang di atas motor yang mulai memarkirkan motornya. Wajahnya tak asing bagi Nining. Nining spontan menepi dan mengusap tangan kotornya pada baju kemudian mencuci tangannya. Dengan cepat Nining menarik tangan guru kesayangannya dan mencium tangannya dengan tawadhu’. Mereka berdua menepi mencari tempat duduk.
          Pak guru itu menata napasnya, “Bapak sudah mendengar semuanya. Bapak turut berduka cita. Tapi kamu jangan sampai putus sekolah.”
          Nining menundukkan kepala lesu.
          “Jangan memikirkan biaya. Bapak sudah mencarikan bea siswa untuk sekolahmu bahkan untuk kuliahmu juga.”
          Spontan Nining menoleh.
          Pak guru bijak itu tersenyum lebar, “Semunya gratis. Tapi setelah lulus nanti kamu di wajibkan menjadi guru. Karena di sini membutuhkan jasa guru.”
          Mata Nining berbinar. Embun kecil di tepi mata beningnya meleleh. Namun binar kebahagiaan itu mendadak layu. “Terima kasih Pak. Tapi saya anak semata wayang. Tidak mungkin saya meninggalkan Mak.”
          Tubuh renta itu berjalan tergopoh-gopoh, “Ridho Mak akan menyertaimu menuntut ilmu,” senyuman tulus itu menentramkan hati.
          “Aku tak pernah menyesal di lahirkan dari rahim Mak,” jiwa mereka terbalut dalam untaian kasih.
          Lilin kecil itu bercahaya kembali. Dan lilin kecil itu memiliki impian untuk menjadi cahaya yang dapat menerangi semua manusia.


N0vember 2010
Garuda di dadaku


SEMANGATMU (TIMNAS) ADALAH SEMANGATKU

Derap langkah terhentak pasti. Menggetarkan antero Glora Bung Karno. Semangat dalam jiwa jangan di nodai. Dengan tekanan dan beban.
Bukan!
Bukan masalah menang atau kalah. Tapi semangatmu adalah semangatku.
Tidak!
Kita tidak kalah. Bukankah kita telah berpesta?
        Tujuan kita adalah kebahagiaan. Dan Indonesia telah menggenggamnya jauh sebelum laga final berdendang.
Rentang jarak bukan jaminan. Ras dan suku tak jadi penghalang. Meski Okto dari pulau seberan nun jauh di sana, dia bisa menjadi sahabat Irfan.
Meski logat Firman tak seperti logat Cristian, tapi mereka dapat membuktikan di lapangan bahwa mereka adalah teman.
Bukan! Bukan tentang kalah ataupun menang kawan! Tapi tentang semangat kebersamaan negara ini yang telah lama terpendam. Dan kalian telah berhasil menyalakan kembali api semangat dalam persatuan.
Dalam sebuah keadaan, jiwa kita satu. Tahukah kau kenapa wahai kawan? Detik ini sanubari kita merasakan hal yang sama. Berdoa dan mengibarkan bendera semangat patriot bangsa.
Bukankah kalian adalah pemenang? Yang berhasil memenangkan hati bangsa Indonesia tercinta. Pemain ke 12 bangsa.
Bahkan lawan kita tak merasakannya. Tak merasakan jiwa yang berkobar dan menggemakan nama merah putih dalam bibir dan dada mereka.
Seperti semangat pasukan merah putih yang menggenangi daratan GBK dengan lautan merah tak bertepi.
Apakah euforia yang di rasakan pasukan merah putih ibu pertiwi kita juga bergema di negara tetangga?
GKB beralih fungsi menjadi pemersatu dalam perbedaan budaya dan suku di negeri kita.
Kawan,
Meski keletihan merayap, semangatmu berkobar hingga titik peluh terakhirmu. Bukan tentang piala atau thropy. Tapi tentang kemenangan sejati.
Kemenangan yang membuat iri lawan-lawan kita.
Bangsa Indonesia tumpah di GBK.

Bukan!
Ini bukanlah nasehat atau petuah dari goresan kecil tangan anak ingusan. Karena sebuah kata takkan mampu memecahkan batu karang. Goresan tangan takkan mampu membelah gunung atau membalikkan dunia. Tak perlu menasehati seorang guru apa yang harus ia ajarkan kepada muridnya. Karena seorang guru lebih tahu apa yang terbaik untuk muridnya. Tapi ini tentang gejolak hati yang tertuang pada coretan tangan si anak ingusan.
Suasana haru biru di Indonesia, bukanlah suasana kekalahan. Tapi penghormatan bagi laskar garuda. Karena kobaran api semangat dalam dada garuda Indonesia takkan pernah padam.
Karena semangatmu adalah semangatku.
Garuda di dadaku.