Kamis, 01 Desember 2011

Ruang Remang


RUANG REMANG


Aku melihat setitik cahaya di sana
Di sudut ruangan yang gelap
Bukan!
Bukan gelap sebenarnya tapi remang-remang
Aku senang melihatnya meski itu hanya sebuah titik yang jika di sandingkan dengan cahaya lampu cahaya itu takkan terlihat

Ya, aku senang
Karena dari percikan kecil itu ada harapan untuk menjadi cahaya yang terang
Dan akhirnya memenuhi ruang remangku
Sepercik cahaya itu mampu menuntunku untuk mencari arah jendela
Dan aku pun membukanya

Ya, setitik cahaya itu mampu menuntunku membuka mata
Menatap dunia
Dan mengabarkan bahwa dunia itu tak sesempit lingkaran
Saat masalah menatapku dengan garang senyumku adalah kemenangan

PENCURI TULANG

        Kucing itu meraung kesakitan. Darahnya bercucuran deras. Tak akan ada yang iba dengan rintihan seeokor kucing kumuh yang terkapar di gang becek dengan cahaya lampu remang. Sesekali lampu itu hidup lalu redup kembali.
        Kulitnya mengelupas sadis. Jangan di kira kucing tak bisa menangis. Matanya merah marah. Marah? Kemarahan itu hanya mampu ia lampiaskan dari lukisan mata liarnya. Karena raganya sudah tak berdaya lagi.
        Prak!! Duk! Duk! Klontang! Segala bentuk peralatan dapur melayang mengejar satu titik yang larinya lebih kencang dari si pelempar. Namun sepandai-pandai tupai melompat, pun ia bisa terjatuh juga. Sebuah landen kayu tepat mengenai pelipis kepala si kucing. Ia tetap berlari kencang. Namun mendadak kakinya me-rem. Segala penjuru ruang itu tak bercelah. Bahkan lubang semutpun tak ada. Ia terpojok. Dadanya kembang kempis. Dengan senyum dingin nan garang makhluk mengerikan berwajah manusia itu mendekatinya. Tak terlintas dalam bayangan si kucing, pemiliknya yang seolah menyayanginya ternyata meluapkan kebenciannya dari hentakan kaki sampai ubun-ubun. Hanya karena satu alasan, mencuri tulang.
        Satu ember air menenggelamkan napasnya. Darahnya berceceran di lantai dapur. Setelah puas melampiaskan amarah yang  meluap, kucing malang itu di lempar begitu saja ke pinggir jalan. Baru kemarin ia di elus, di manja dan di beri makanan enak. Ternyata semua itu hanya sebuah sandiwara.
        Rintik hujan memang tak selebat tadi, tapi riuh kediaman seorang lelaki paruh baya lebih ramai dari derasnya hujan. Mobil hijau dengan plat hijau mengerubungi rumahnya. Sirinenya memekik di telinga. Sungguh membuat miris hati orang yang mendengarnya. Lelaki paruh baya itu keluar rumahnya dengan tatapan menunduk malu. Sebuah borgol mengikat tangannya yang masih berbekas darah si kucing malang yang ia lempar. Lelaki itu bak  orang kaya yang dikawal dua bodyguard gagah di belakangnya hanya karena ia mencuri daging.
        Dan di seberang sana, lelaki baya bertubuh gemuk dengan perut membuncit tengah tertawa girang mendapati kabar bahwa kacungnya di tangkap sebagai kambing hitam atas perbuatannya mencuri beribu-ribu sapi.

***

        Malam gelap membayangi rumah mewah dengan tiang gagah penuh wibawa. Mengabarkan kepada semua orang kehebatan dan kekuasaan yang di miliki sang pemilik rumah. Kabut tipis menyelimuti istana putih pencakar langit itu. Bunyi deru mobil bersirine dan lampu merah berputar-putar di atasnya memecah keheningan sementara. Kini isak tangis hanya menjadi pengiring. Tiada guna. Jasad pucat dengan perut membuncit itu di bopong memasuki ambulan dan di larikan ke rumah sakit untuk di visum. Dan yang mengejutkan, hasil visum menyatakan bahwa lelaki baya itu meninggal karena terlalu banyak mengkonsumsi daging. Bukan hanya daging seekor sapi, tapi beribu-ribu sapi. Dan jasatnya yang selalu di elu-elukan dan selalu menduduki kursi terhormat kini hanya di anggap sebagai sebuah bangkai tak berguna.