PENCURI TULANG
Kucing itu meraung kesakitan. Darahnya
bercucuran deras. Tak akan ada yang iba dengan rintihan seeokor kucing kumuh
yang terkapar di gang becek dengan cahaya lampu remang. Sesekali lampu itu
hidup lalu redup kembali.
Kulitnya mengelupas sadis. Jangan di
kira kucing tak bisa menangis. Matanya merah marah. Marah? Kemarahan itu hanya
mampu ia lampiaskan dari lukisan mata liarnya. Karena raganya sudah tak berdaya
lagi.
Prak!! Duk! Duk! Klontang! Segala bentuk
peralatan dapur melayang mengejar satu titik yang larinya lebih kencang dari si
pelempar. Namun sepandai-pandai tupai melompat, pun ia bisa terjatuh juga.
Sebuah landen kayu tepat mengenai pelipis kepala si kucing. Ia tetap berlari
kencang. Namun mendadak kakinya me-rem. Segala penjuru ruang itu tak bercelah.
Bahkan lubang semutpun tak ada. Ia terpojok. Dadanya kembang kempis. Dengan
senyum dingin nan garang makhluk mengerikan berwajah manusia itu mendekatinya.
Tak terlintas dalam bayangan si kucing, pemiliknya yang seolah menyayanginya ternyata
meluapkan kebenciannya dari hentakan kaki sampai ubun-ubun. Hanya karena satu
alasan, mencuri tulang.
Satu ember air menenggelamkan napasnya.
Darahnya berceceran di lantai dapur. Setelah puas melampiaskan amarah yang meluap, kucing malang itu di lempar begitu
saja ke pinggir jalan. Baru kemarin ia di elus, di manja dan di beri makanan
enak. Ternyata semua itu hanya sebuah sandiwara.
Rintik hujan memang tak selebat tadi,
tapi riuh kediaman seorang lelaki paruh baya lebih ramai dari derasnya hujan.
Mobil hijau dengan plat hijau mengerubungi rumahnya. Sirinenya memekik di
telinga. Sungguh membuat miris hati orang yang mendengarnya. Lelaki paruh baya
itu keluar rumahnya dengan tatapan menunduk malu. Sebuah borgol mengikat
tangannya yang masih berbekas darah si kucing malang yang ia lempar. Lelaki itu
bak orang kaya yang dikawal dua bodyguard
gagah di belakangnya hanya karena ia mencuri daging.
Dan di seberang sana, lelaki baya
bertubuh gemuk dengan perut membuncit tengah tertawa girang mendapati kabar
bahwa kacungnya di tangkap sebagai kambing hitam atas perbuatannya mencuri
beribu-ribu sapi.
***
Malam gelap membayangi rumah mewah
dengan tiang gagah penuh wibawa. Mengabarkan kepada semua orang kehebatan dan
kekuasaan yang di miliki sang pemilik rumah. Kabut tipis menyelimuti istana
putih pencakar langit itu. Bunyi deru mobil bersirine dan lampu merah
berputar-putar di atasnya memecah keheningan sementara. Kini isak tangis hanya
menjadi pengiring. Tiada guna. Jasad pucat dengan perut membuncit itu di bopong
memasuki ambulan dan di larikan ke rumah sakit untuk di visum. Dan yang
mengejutkan, hasil visum menyatakan bahwa lelaki baya itu meninggal karena
terlalu banyak mengkonsumsi daging. Bukan hanya daging seekor sapi, tapi
beribu-ribu sapi. Dan jasatnya yang selalu di elu-elukan dan selalu menduduki
kursi terhormat kini hanya di anggap sebagai sebuah bangkai tak berguna.